Journal

English Writing Challenges #Day2

I went to an elementary school near my house.  I usually sell batik to the teachers. I was happy when I knew they like wearing this Indonesian culture clothes.  

When I talked  to one of the theacher there I was distracting by three little girls wearing white-red uniform. They stared at me for a moment. I began to talked to them also. I asked them why they didn’t go home earlier? They answered and said that today is their turn to cleaning the classroom together. 

I remembered when I was in elementary school, we also had a schedule to clean our classroom. Oh.. how long the moment has past.

This picture I took secretly.  I love to see their happines when doing small things. 

Children can easily make someone feels happy.

Advertisements
Journal

English Writing Challenges #Day1

Last sunday, I saw this beautiful flower bloomed in front of the big unfinished church building near my home.

The white color drew some unspoken warmth feeling to my heart. I took my phone, opened the camera tools and took the picture suddenly.. 

I love to see flowers,  but this is different. There’s something special in it. It makes my heart feel quietly calm ❤

#flower #flowerlovers #whiteflower 

Tak Berkategori

‘cukup’

Kasih karunia sudah diberikan begitu melimpah

Tapi anak tak tahu diri ini masih sering sekali mengeluh

Melupakan bahwa hal-hal dalam hidup ini kebanyakan karena pemberian bukan karena hasil usaha

Hmm

Hatinya mungkin lobang dengan semua keluhan

Pikirannya mengelana berharap hal-hal luar biasa di luar dirinya sanggup untuk mengisi kekosongan itu

Ah, lagi-lagi dia lupa

Hidup ini dimaknai dengan syukur dan makin indah jika diwarnai dengan rasa cukup

Semangkuk bahagia itu disesapnya dengan girang

Hatinya makin penuh dengan kegembiraan

Dan..

Belum lambat untuk menyadari

bahwa rasa cukup hari demi hari

menjadi sumber bahagia tak terganti.. 

23 Januari 2018

Tak Berkategori

Seandainya aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi….

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Blogger Challenges ke 66

Aku menunggu cukup lama untuk dapat menuliskan hal ini. Aku orang yang cukup realistis di hidupku dan tidak suka berandai-andai. Kata “seandainya” di depan judul tantangan menulis ini membuatku berpikir cukup keras. 

Aku merasa hidupku sekarang sudah cukup baik. Dan aku tidak ingin mengurangi atau menambahkan sesuatu yang menurutku tidak akan memberikan faedah apapun di dalamnya. 

Tapi, satu hal terjadi hari ini.  Aku mengingat komitmen awal tahun 2018 yang pernah kubuat. Di dalam komitmen itu aku berjanji untuk lebih banyak memberi kepada orang lain. Hidupku terasa bermakna jika aku dapat melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain. 

Nah, karena komitmen itulah akhirnya aku menuliskan semua hal-hal yang kuharap bisa berubah seandainya aku (boleh) dilahirkan kembali di tempat, waktu dan keadaan yang berbeda. 

Seandainya aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi seorang yang kaya raya. Tujuannya supaya dapat membantu banyak orang. Bukan untuk menyuapi mereka nasi, tapi memberi mereka sesuatu yang lebih tinggi dari sekedar mengisi perut. Sekolah yang layak dan keterampilan yang mumpuni sehingga hidup mereka bisa berubah menjadi lebih baik. 

Seandainya aku dilahirkan kembali,  aku ingin lahir dan menjadi pemimpin di negara adidaya. Supaya kebijakan dan keputusan besar yang ku buat dapat berdampak pada pemulihan hidup banyak orang.

Seandainya aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Aku akan membentuk sistem kenegaraan yang bebas korupsi sejak negara ini dibentuk. 

Seandainya aku dilahirkan kembali… 


#bloggerchallenges #BC66

Journal, sekadar coretan

Mantan

Tulisan ini dibuat (bukan) untuk mengenang mantan.

Tapi untuk menuangkan segala isi pikiran ke dalam tulisan. Kadang aku merasa sayang dengan pikiran yang menurutku brilian..(haha), namun tidak tertuang dalam tulisan..hehe 😛

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring,  mantan berarti bekas pemangku posisi. Seseorang yang pernah menduduki posisi/jabatan tertentu, tetapi yang saat ini tidak lagi berada di posisi tersebut. Misalnya saja Mantan Gubernur, Mantan Ketua Organisasi Xx,  Mantan Kepala Bidang, dan lain sebagainya.

    Sementara dalam kamus bahasa anak-anak jaman sekarang, mantan (juga) berarti seseorang yang pernah menduduki sebuah posisi (iyap, posisi di dalam hati) yang kini tidak lagi berada di posisi tersebut. Bisa saja posisi itu telah digantikan oleh orang lain, atau masih kosong karena belum menemukan orang yang tepat yang dapat mengambil tempat itu lagi, atau justru dalam diam posisi itu masih dimiliki orang tersebut, tapi karena gengsi ya jadinya tidak mau mengakui. 

    Beberapa hal dibawah ini saya tuliskan berdasarkan observasi dan pengamatan dalam hidup beberapa orang, semoga ini mencerahkan pemikiran kita tentang dia yang telah pergi. 

    1. Dia bukanlah yang terbaik untukmu. 

    Banyak anak muda yang gagal move on (gagal pindah ke lain hati) karena selalu merasa bahwa sang mantan tetap yang terbaik di dalam hidup mereka. Yah, mungkin saja kenangan yang diciptakannya memang sulit untuk dilupakan, mungkin juga banyak sifat baiknya yang belum kamu temukan pada diri orang lain, tapi dia pasti bukanlah yang terbaik untukmu. Seberapapun kamu pernah meyakini bahwa dia lah yang terbaik, tapi sejak dia pergi maka dia bukan yang disiapkan untukmu. Terkadang, keyakinan-keyakinan yang salah tentang dirinya masih membelenggu hati sehingga masih sulit untuk melihat dunia luar yang memungkinkanmu untuk melihat jutaan bahkan milyaran orang yang lebih baik darinya. 

    2. Berpisah dengannya membuatmu belajar banyak hal baru. 

    Menangis dan bersedih karena putus cinta adalah hal yang wajar. Namun, setelah tangisan itu mengering di sudut-sudut mata, akan muncul banyak pelajaran baru yang sebelumnya tidak dimengerti. Misalnya saja “hidup harus terus berlanjut”, “ternyata aku baik-baik saja tanpa dirinya”. Mimpi yang pernah dibangun bersama-sama akhirnya hancur, tetapi justru memunculkan mimpi-mimpi baru yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya. Seakan-akan menggambarkan peribahasa mati satu tumbuh seribu. Sang mantan memberi banyak pelajaran sederhana di dalam kehidupan. 

    3. Perubahan cara melihat masa lalu

    Selain itu terjadi juga perubahan cara melihat masa lalu. Sang mantan kini telah menjadi masa lalu. Ia telah menjadi sebuah bagian dari kehidupanmu sendiri. Karena itu, belajarlah untuk jujur melihat dirinya dan masa-masa bersamanya. Jangan menghakimi kehadirannya sebagai momen paling menyedihkan dalam hidup atau kesalahan paling besar yang pernah dilakukan sejak kau dilahirkan. Jujurlah bahwa kau pernah merasa senang bukan kepalang karena kehadirannya, tapi kau juga pernah merintih hancur berkeping-keping karena kepergiannya. Ia telah menjadi masa lalu yang tidak mungkin diubah tapi selalu bisa diterima. Ia sudah jadi memiliki sejarah tersendiri di dalam hidupmu, dan itu pun sudah berlalu. 

    4. Matang menapaki masa depan

    Kata orang, patah hati dapat mengubah seseorang. Ia bisa menjadi seseorang yang berbeda 180°. Tapi aku melihat patah hati sebagai sebuah kesempan untuk menciptakan keseimbangan. Hati yang patah membuat orang menjadi lebih logis dalam mencintai. Karena cinta tidak bicara tentang rasa yang menggebu, tetapi nalar yang berpikir. Hal ini membuat orang-orang yang pernah patah hati / putus cinta menggunakan hati dan pikirannya dengan seimbang. Karena mereka telah banyak belajar dari sebuah (atau bahkan beberapa) perpisahan. 

    Ternyata, banyak pelajaran menarik dari mereka yang telah pergi. 

    27 Desember 2017
    #mantan #masalalu #pelajarandarisangmantan #bloggerchallenges #BC 

    Tak Berkategori

    Pak Nic, guruku yang (tak) terlupakan

    ​Nasihat terbaik, tidak datang dari banyaknya kata-kata. 

    Nasihat terbaik muncul dari sebuah keteladanan hidup
    Menulis dengan tema “guru”, membuatku menerawang kembali ke masa 12 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama  (SMP). Masa SMP adalah masa yang paling kusenangi dalam hidupku. Ada banyak hal menyenangkan dan tak terlupakan yang terjadi. Mungkin juga karena waktu SMP adalah waktu di mana aku bebas bermain dan belajar sesukaku, tanpa mempedulikan apapun. Bebas berprestasi dan mengekspresikan seluruh kegemaranku. Ah, tapi cerita ini bukan tentang aku. Tetapi tentang guruku yang mengambil peranan yang besar di dalam pembentukan pribadiku sejak aku SMP. 

    Pak Nic adalah seorang pembina Pramuka di  SMP Negeri 2 Kupang. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika mengikuti kegiatan pramuka pada saat duduk di kelas  SMP. Sebenarnya aku bukan orang yang menyukai kegiatan kepemimpinan, karena jujur saja aku paling lemah di dalam kepemimpinan. Aku punya pandangan pribadi tentang kepemimpinab. Aku juga tidak suka berdiri di depan banyak orang. Hal itu membuatku keringat dingin luar biasa. Jantungku akan berdegup kencang, kepalaku mendadak kosong dan membuatku tidak mampu mengingat apapun. Yah, kuakui aku punya krisis kepercayaan diri yang sampai hari ini sudah berangsur pulih, walaupun belum sempurna. Namun, pertemuan dengan Pak Nic mengubah seluruh cara pandangku tentang kepemimpinan. Kepemimpinan sejatinya bukan memimpin orang lain, tetapi justru memimpin diri sendiri. 

    Cerita tentang Pak Nic dan pengaruhnya dalam hidupku ini bermula ketika Kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekoah (OSIS) SMP Negeri 2 Kupang memutuskan untuk merekrut para Calon Pengurus dari masing-masing kelas. Aku dan salah seorang teman menjadi utusan dari kelas kami. Kami  mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk menjadi pengurus OSIS. Biasanya, para pengurus OSIS yang dalam waktu dekat mengakhiri masa kepemimpinan mereka akan merekrut para Anggota OSIS periode sebelumnya untuk mengambil tampuk kepemimpinan selanjutnya. Dan, berhubung aku bukanlah bagian dari kepengurusan sebelumnya, aku santai-santai saja karena toh aku pasti tidak akan terpilih (:P). Namun, ternyata aku salah besar! Aku menjadi salah satu kandidat Calon Ketua OSIS SMP Negeri 2 Kupang. Aku dan 2 orang temanku dipanggil oleh pembina OSIS dan kemudian diwawancarai. Dan sayangnya, saat ini aku sudah melupakan pertanyaan-pertanyaan yang pernah diberikan kala itu.  

    Beberapa waktu setelah LDK, hari pengukuhan pengurus pun tiba. Di sore hari yang hampir gelap kala itu, namaku diumumkan sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 2 Kupang periode 2005-2006. Heran sekaligus bingung. Aku tidak tahu mengapa keputusan seperti ini bisa terjadi. Belakangan, aku baru memahami bahwa ternyata Pak Nic memberikan penilaian-penilaian kepada semua peserta LDK. Ia melihat ada sebuah potensi untuk memimpin diri sendiri yang ada di dalam diriku, sehingga ia dan para pembina OSIS memutuskan hal tersebut. Aku sendiri bingung dan tidak tahu tentang hal tersebut. Selain OSIS, Pak Nic juga memberikan kepercayaan kepadaku untuk menjadi Pemimpin Regu Putri di Pramuka, padahal aku juga bukan orang yang setia mengikuti Pramuka sejak kelas 1. Terkadang, aku merasa potong kompas. Tidak mengikuti alur yang sebenarnya, tetapi langsung ditunjuk menjadi  yang pertama, yang memimpin. Karena mengikuti seluruh kegiatan OSIS dan Pramuka, aku jadi sering berinteraksi dengan Pak Nic. Beliau orang yang bersahaja, ramah, dan bijaksana. Setiap kali kesempatan perkemahan, Pak Nic ikut serta dengan kami dan  hal ini menunjukkan perhatiannya kepada anak-anak binaannya. Ia memberikan lebih banyak contoh tindakan nyata, dari pada sekedar berkata-kata. Ia menegur untuk membangun bukan untuk meruntuhkan kepercayaan diri anak-anak didiknya. 

    Sekali waktu, aku pernah mengalami sedikir kesalahpahaman dengan Pembina OSIS dan Pak Nic menolong untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ketika anak didiknya membutuhkan, Pak Nic hadir dan mendengarkan. Bahkan kami juga bebas menangis di hadapannya tanpa takut akan dimarahi, dibilang cengeng dan sebagainya. Pak Nic memang bukan guru yang mengajarku banyak ilmu di dalam kelas, tetapi Pak Nic mengajariku bagaimana menjadi disiplin dan tidak malas. Pak Nic tidak mengajariku matematika dan fisika, tapi mengajariku menjadi pemimpin yang berani memutuskan banyak hal di saat keadaan tidak tertebak. Pak Nic  tidak banyak memberikan ceramah, tetapi terlampau sering memberi teladan untuk menentukan arah. 

    Terimakasih Pak Nic. Terimakasih guruku. Terimakasih karena mengukir sesuatu yang sampai hari ini masih terus kukenang. 

    14 Desember 2017

    Tulisan ini dibuat untuk memenuhi BloggerChallenges 65. 

    #bloggerchallenges65 #BC65 #semangatmenulis 

    Tak Berkategori

    Notasi Kehidupan

    ​Dan nyanyian yang merdu itu tidak berhenti menggema di dalam jiwa. 

    Terimakasih karena menghidupkan nyanyian-nyanyian yang telah lama berhenti.

    Tanah tempatku pulang memanggil-manggil, seakan tidak ingin ditinggalkan. Dan di tanah batu karang inilah aku kembali pulang. 

    Aku bersyukur karena di tanah ini, aku bertemu dengan banyak orang yang berbakat. Tak sedikit yang menggemari seni. Seni musik, seni tari dan tak lupa juga seni peran. Mulai dari Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, anak-anak telah diracuni pemikirannya dengan seni. Tak heran jika begitu banyak orang yang memiliki kemampuan luar biasa tak tertandingi.  Contohnya saja, di gerejaku aku bertemu dengan banyak orang yang bukan hanya SUKA bernyanyi, tetapi PANDAI bernyanyi. Bukan hanya berkaitan suara yang bagus dan enak didengar, tetapi lebih kepada teknik vokal yang tepat sehingga tidak cepat lelah ketika bernyanyi(ahaha! Ini menurutku looo yaaa….). Mungkin karena aku kurang pergaulan dengan teman-teman Paduan Suara atau Vocal Group di Surabaya dulu, jadinya aku merasa sangat WOW! (Fyi, aku pernah mengikuti satu kelompok Paduan Suara di GKI Kutisari Indah Surabaya dulu, namanya PS Ekklesia).

    Dan, disinilah aku sekarang. Di dalam posisi yang tak bisa menolak ataupun mengelak (tak bisa kuceritakan disini), aku bergabung dengan sebuah kelompok Paduan Suara, bernama Paduan Suara Perisai. Awalnya bingung, tidak percaya diri, selain sebagai orang baru, kebanyakan teman-teman lebih muda dariku (T.T), dan lebih mahir tentu saja. Hal ini membuatku semakin bingung menempatkan diri (ternyata krisis kepercayaan diriku belum pulih). Tapi syukurlah, beberapa kali latihan ini membuatku lumayan senang. Seiring dengan proses belajar, kita pasti menemukan kenyamanan-kenyamanan yang tak disengaja, bukan? Lagu pertama yang kupelajari adalah “Jangan Kuatir” oleh Bonar Gultom 1996. Nada-nada yang indah, jika dinyanyikan dengan hati pasti tersampaikan dengan baik kepada pendengarnya. Rencananya, 17 Desember nanti kami akan menyanyikan pujian ini di gereja.

    Ada sebuah pelajaran penting yang kudapatkan ketika berlatih bernyanyi dengan membaca notasi. Aku tidak dapat memahami semua hal sekaligus dengan cepat. Aku harus belajar perlahan-lahan. Membaca notasi itu membutuhkan latihan yang tetap dan serius. Dulu, aku bisa saja membaca nada “mi” dengan bunyi “sol” atau sebaliknya (hahaha :P). Mempelajari keterampilan-keterampilan ini memberikanku sebuah pemahaman bahwa tidak ada hal yang instan di dunia ini. Semua hal membutuhkan proses yang panjang. Dari tidak tahu apa-apa menjadi mahir bahkan dapat melatih orang lain, dimulai dari satu langkah awal untuk belajar. Tidak ada manusia yang lahir dan langsung menjadi seorang penyanyi profesional. Semua keterampilan itu didapatkan dengan proses belajar yang tidak sedikit. Sebuah kemahiran tidak muncul dalam satu malam. Tapi dengan ketekunan berlatih, rasa ingin tahu, kerinduan belajar dan kerendahan hati tak berkesudahan untuk mengakui bahwa aku belum tahu apa-apa. 
    Hidup itu seperti belajar membaca notasi lagu. 

    Kadang aku salah membunyikan, kadang tepat sasaran. 

    Kadang terdengar merdu, kadang tertangkap sumbang. 

    Ah, itu bukan masalah besar.. karena hidup itu belajar..

    Journal

    Merayakan Kegagalan

    Seperti mencari jarum di dalam jerami. Dan tiba-tiba jarum itu kau temukan!

    Yah, begitulah kira-kira perasaanku ketika pengumuman Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS Kementrian Keuangan dan aku menjadi salah satu orang yang lulus. Itu berarti bahwa untuk 6 orang yang dinyatakan lulus, aku menjadi salah satu diantaranya. Aku mengambil formasi Analis Satuan Pengawas Internal dengan formasi untuk 2 orang dan lokasi penempatan di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK)). Inilah sebuah kemustahilan yang kupikir tetiba menjadi sesuatu yang mungkin. Aku bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang memberikanku satu kesempatan ini. Menurut informasi, terdapat 78 orang yang mendaftar, 48 orang mengikuti SKD dan 7 orang yang memenuhi passing grade. Aku mendapatkan peringkat ke 2 dengan lokasi ujian di Yogyakarta dan 5 orang lainnya mengikuti ujian di Jakarta. Singkat cerita aku akhirnya berangkat (lagi) ke Yogyakarta.
    Syukur atas penyediaan Tuhan, kali ini aku menginap di kos temanku, sebut saja IB. Seorang gadis Alor berhati baik yang sedang menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Yogyakarta. Senja sudah mengintip ketika aku tiba di Jogja dan IB sudah menunggu di Bandara. Kami langsung ke kosnya, meletakkan barang-barangku, dan mencari makanan untuk disantap berhubung perutku telah berteriak meminta jatah. Kami bercerita banyak hal, menceritakan tentang hidup masing-masing yang sedang dibentuk dan ditata oleh Allah. Banyak keajaiban yang dibuatNya, banyak tantangan yang dilewati, banyak hal yang tidak pernah kami sangkat ternyata terjadi di dalam hidup kami masing-masing. Aku bersyukur karena mendapat seorang rekan, kawan perjalanan siarah rohani yang belum berakhir. Allah berbicara kepada kami masing-masing bahwa di tempat manapun, dengan cara yang berbeda-beda, Ia sedang membentuk tiap-tiap orang untuk menjadi makin serupa denganNya. Tapi satu hal yang sama adalah Ia membuat kami tercengang-cengang dengan kebaikanNya, Ia membuat kami bertekuk lutut untuk mengatakan bahwa hanya Dialah Allah, hanya di dalam Dialah kami mendapatkan ketenangan, sukacita dan damai sejahtera yang melimpah. Hanya Dia, dan tak ada yang lain. Seperti yang dikatakan pemazmur “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” Ia menjadi sahabat tak tergantikan di dalam kondisi seperti apapun. Aku sangat bersyukur untuk perjalanan ini karena menemukan seorang sahabat yang dapat membuatku menyaksikan kembali kebaikan-kebaikan Allah. 

    Malam-malam di Jogja makin membuatku agak sedikit deg-deg-an karena psikotes yang harus aku ikuti. Aku belajar sebisanya. Menggunakan soal-soal yang dibagikan teman-teman di grup CPNS yang aku ikuti. Hari yang ditunggu-tungguh pun datang, aku mempersiapkan diriku dengan datang lebih awal di Gedung Keuangan Negara (lokasi tes). Soal-soal yang keluar ternyata tidak  terprediksi. Lumayan susah sih! Aku mengerjakan semuanya semampu yang aku bisa dan sisanya kuserahkan pada yang Kuasa. Aku meninggalkan ruang tes dengan rasa plong dan harap-harap cemas menanti hari pengumuman. 

    Aku meninggalkan Jogja dan pergi menginap di tempat kakakku di Karanganyar. Beberapa hari di Karanganyar kuhabiskan dengan bersantai. Aku juga pergi ke salah satu lokasi penjualan buku Bekas di Surakarta untuk mendapatkan bacaan murah meriah yang berkualitas. Aku mendapat 3 buah buku, sepaket karangan Pramodya Ananta Toer, sebuah buku lain berjudul Garis Batas karangan Agustinus Wibowo dan Habis Gelap Terbitlah Terang – Kartini yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. Aku mulai heran dengan pilihan bukuku, ternyata aku menyukai buku-buku yang menceritakan tentang zaman/masa yang berbeda denganku atau lokasi yang nun jauh di sana. Bagiku buku dapat menolongku untuk melihat dunia luar. Aku bisa berkelana ke negeri-negeri yang tidak kuketahui hanya dengan membaca. Aku bisa menikmati Malaka di Pulau Timor, Afghanistan di Asia Selatan dan California di  Amerika Serikat secara bersamaan. Pikiranku yang sempit bisa terbuka luas ketika membaca. Selain itu, membaca membentuk kerendahan hati. Karena kesadaran bahwa ternyata ada banyak hal di dunia ini yang tidak kita tahu. 

    Dan, hari itu pun tiba.. 10 November 2017 pukul 23.45 pengumuman hasil psikotes CPNS Kementrian Keuangan. Aku membukanya perlahan. Dengan degup jantung yang masih terdengar, aku melihat namaku tertera di urutan ke-5. Dengan nilai psikotes 87 dan sebuah keterangan kecil yang mencuat diujung baris “TL”, tidak lulus. Mereka hanya mengambil 4 orang di tahap ini. Kecewa, iya! Sedih, iya! Karena nilai kami ternyata hanya berpaut 1 angka. Malam itu membuatku tidak bisa berpikir. Aku merenung sedih. Walaupun aku tidak berharap banyak dalam tes ini, tetapi kekecewaan karena gagal (lagi) adalah hal yang tidak mengenakan. Kegagalan sepertinya menjadi sesuatu hal  yang sangat tidak aku sukai. Aku menghibur diri dengan dengan cara pandang bahwa inilah kesempatan untuk pulang. Kembali ke rumah adalah hal yang sangat kurindukan saat itu. Semalaman sedih dan tak bisa tidur ternyata menyesakkan. Mata yang berusaha kupejamkan ternyata masih ingin terjaga dan malah menitikkan sedikit demi sedikit air. Pemikiran yang berkecamuk ini ternyata sulit untuk dikendalikan. Membuatku menyerah dan membiarkan diriku menikmati waktu yang sedih ini. Ternyata pedih itu perlu dirasakan, bukan dihindari. Ia meronta dan mengerang sembari menjelaskan bahwa di dalam hidup ini tidak hanya ada kesenangan. Kesedihan karena kekecewaan dan kegagalan juga punya ruangnya sendiri yang tidak dapat dilewatkan begitu saja. Dan aku menerima kegagalan ini (lagi).

    Pagi-pagi buta aku terbangun dari lamunan (bukan dari tidur, karena aku belum tidur sejak pengumuman dikeluarkan), melihat pesan Mama yang luar biasa meneduhkan. Mama adalah suporter tak tergantikan di dalam hidup. Ketika semua orang pergi, hanya mama yang tetap  ada. Ketika semua orang menyoraki kegagalanmu, hanya mama yang tetap percaya bahwa suatu hari nanti ada keberhasilan di depan yang menanti anaknya. Mama itu wanita luar biasa. Ia berkata kepadaku untuk tetap semangat, tetap bersyukur, segera pulang dan meneruskan les-les yang sedang kutinggalkan di Kupang karena mengikuti tes di Pulau Jawa. Kata-kata Mama menjadi pijakan yang baik bagiku untuk melihat segalanya dengan lebih jelas. Sekelumit pikiran masuk lagi ke dalam diriku dan membuatku menerawang, “mungkin memang belum waktunya”. Allah punya waktu-Nya sendiri untuk menepati janji kepada anak-anak-Nya. Aku masih belum puas, namun berusaha untuk meyakini secuil keyakinan tentang Allah yang muncul tersebut. Dan tubuhku yang lelah membuat mataku tak bisa membantah untuk meredup dan beristirahat.

    Aku terbangun pukul 6 lebih seperempat. Dengan ucapan syukur kepada Allah karena menuntunku hingga posisi ini. Menjadi urutan 5 se-Indonesia menjadi hal yang cukup membanggakanku. Kurayakan kegagalanku dengan cara pandang yang berbeda. Tanah Timorku tercinta sedang menantiku pulang. Mungkinkah tempatku sebenarnya bukan di Pulau ini? Mungkinkah Ia sebenarnya sedang ingin membentuk sesuatu di Tanah Batu Karang yang kering itu? Tidak ada yang tahu… 

    K.E.C.E.W.A

    K.E.C.E.W.A

    Acap kali kekecewaan membuat kita mundur.

    Tidak hanya mundur, mungkin memutar arah karena terlanjur menghakimi sebuah situasi.

    Di lain kesempatan, kita akan diperhadapkan dengan situasi yang sama pula.

    Namun ditantang dan sedikit dipacu untuk memberikan respon yang berbeda.

    Ruang-ruang kecil yang masih diisi kecewa, hanya akan membuat kita berlari ke masa depan dengan kedua kaki masih terantai belenggu masa lalu.

    Tanpa disadari, itu membatasi kita untuk melakukan lebih.

    Bahkan menahan diri sendiri untuk menjadi apa adanya.

    Moga-moga kita (atau lebih tepatnya kamu) dengan keputusanmu sendiri melepaskan rantai masa lalu dan terbang bebas menuju masa depan.

    Rumah, 24 Oktober 2017.

    Tambahan: gambar di bawah ini tidak berkaitan dengan tema. Tapi aku hanya ingin pamer.

    Lokasi: Hutan Pinus Pengger, DIY

    Foto agak berbeda dengan tulisan. Fotonya cuman buat pamer aja... =)

    Journal

    Catatan Pinggir

    Kita bergerak dari satu kemustahilan ke kemustahilan berikutnya.
    Dan Allah berkata bahwa bersamaNya segalanya mungkin

    110, 80, 157. Deret angka-angka itu terpampang jelas pada monitor ASUS yang masih menyala terang di depanku. Tepat pukul 11.30 WIB, 22 Oktober 2017. Dan hatiku masih dag-dig-dug gembira ketika menyadari hal ini. Aku lulus passing grade CPNS Kemenkeu 2017. Yeay!!! Duumm duumm daaamm dammm!!

    Senangku berkali lipat ganda dipangkatkan dua dan dikalikan tiga! Intinya aku senang, gembira dan bahagia sekali karena bisa lolos standar minimal (baca:passing grade). Perjuangan mengerjakan soal-soal latihan intelegensi umum dan karakteristik pribadi, menghafal UUD, Pancasila dan seluruh komponen di dalamnya, serta keseluruhan lingkup materi tentang Bhineka Tunggal Ika, ditambah dengan tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan buah manis dengan lolos nilai minimum. Eits, tidak seperti itu Intha! Ya, sebenarnya tidaklah demikian!

    Ada satu hal yang ingin kusampaikan. Soal-soal seleksi kompetensi dasar yang diberikan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) adalah soal-soal yang tidak terprediksi. Kita bisa saja mempelajari tentang “X”, tetapi yang ditanyakan adalah X-1^2 (baca: X dikurangi 1 dipangkatkan 2) atau –X *3:2000 (baca: min X dikali 3 dibagi 2000). Soal-soal yang diberikan susahnya luar biasa, sehingga aku tidak bisa bilang bahwa hal-hal yang kuusahakan itulah yang membuat ku berhasil. Semua usaha yang kulakukan, membantuku memiliki cara berpikir yang tepat tentang semua materi yang ada. Memperbanyak latihan melatih otak untuk terbiasa dengan soal seperti apapun. Tapi, bukanlah kunci sebuah keberhasilan.
    Dan aku juga mengamini dan meyakini bahwa ada kuasa yang bekerja di dalam nama Yesus. Dan di dalam namaNya itulah aku dapat menjawab semua soal yang ada. Tuhan di dalam kemahakuasaanNya memberikanku hikmat untuk dapat memilih jawaban yang benar.
    Di dalam posisi ini aku sepakat dengan diriku sendiri tentang satu hal:
    Kesuksesan itu diberikan.. Bukan karena hasil usaha!
    Kata orang rezeki, jodoh dan usia itu ada di dalam pengaturan yang kuasa… maka marilah mengikuti ritme menarik yang sedang dijalankan sang pemilik hidup.

    Thank God for this incredible amazing journey.

    Ps: masih ada tahap selanjutnya, perangkingan untuk Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)…
    (ini kesusahan esok hari yang kubiarkan untuk esok hari saja).

    Kasih karuniaNya terlampau cukup untuk hari ini. ☺

    22 Oktober 2017